Sunday, 31 August 2014

Ajaran Salah yang Dipertahankan


Cerita fiktif yang gue buat untuk lomba berhadiah buku. Walaupun sampulnya aja gue gak dapet tapi gak papa gue coba bagi, kali – kali bisa jadi bahan contekan anak TK yang dikasih tugas untuk buat cerita tentang konflik agama. Cekidot….


Gisting adalah salah satu desa di provinsi lampung, Indonesia mini bisa menjadi julukan desa ini. Islam, Kristen, Khatolik, Sunda, Jawa, Lampung dan lain – lain. Semua dipaksa berkumpul menjadi satu karena adanya program transmigrasi tahun 2002 lalu. Sudah hampir 8 tahun tetapi desa ini tidak ada tanda – tanda kerukunan antar masyarakat. Penduduk asli desa ini semua beragama islam, mereka enggan untuk menerima perbedaan yang memang bukan kehendak mereka. Penduduk asli dikenal dengan kefanatikan agamanya. Kefanatikan agama ini tidak diiringi dengan ilmu agama yang cukup. Hingga suatu ketika Abdullah seorang polisi muslim dengan bekal ilmu yang cukup mendapatkan tugas untuk menjadi polisi di desa ini.
Baru sebulan Abdullah tinggal sudah 2 kali menemukan kasus bentrokan ringan antar warga. Dari informasi polisi terdahulu kejadian ini sudah menjadi bagian dari desa, tanpa berujung dan selalu tidak terselesaikan. Kasus bentrokan yang paling terbaru disebabkan karena hal tidak masuk akal membuat beberapa orang tertawa mendengarnya. Betapa tidak bentrokan hanya disebabkan karena kaki rizal pemuda asli lampung terinjak tanpa sengaja oleh pemuda Kristen.
Saling lempar batu, olok – olok dan kegiatan tawuran lainnya dipertunjukan antar dua kubu islam dan Kristen. Abdullah yang siang ini sedang beroperasi terkenan batu di lengan kanannya, sontak ia berlari menuju tempat kejadian. Jumlahnya tidak terlalu banyak hanya 11 orang dan umur nya 18 tahunan. Di ambilnya pistol di pinggang sebelah kanannya lalu diarahkan di udara sambil menarik pelatuk dengan jari telunjuknya. Apa yang dilakukan oleh Abdullah membuat beberapa orang menjerit. Kegiatan bentrokan seketika berhenti dan berubah menjadi kegiatan melarikan diri.
Dengan tangan yang terampil berkat latihan akedemi polisi, Abdullah kembali memasukan pistolnya di pinggang sebelah kanan. Hal ini juga menjadi pertanda bahwa ia harus segera memulai untuk berlari mengejar para pelaku tawuran. Langkah kaki yang dipercepat ditambah sedikit lompatan seorang pemuda muslim dengan nama Amir tertangkap. Setelah mendapatkan satu tangkapan polisi muda ini langsung bergegas menuju kantor polisi.
Dikantor polisi Abdullah ditanya oleh personil lain tentang alasan menangkap amir. Setelah polisi lain tahu bahwa alasannya adalah karena bentrokan. Mereka pun bergumam dengan maksud menyindir abdullah bahwa yang dilakukan itu tidak ada gunanya karena masalah ini sudah menjadi tradisi di desa ini. Tapi abdullah tetap bersikeras untuk memutus mata rantai yang telah berkarat selama ini. Bekerja sendiri, abdullah memulai aksi Tanya jawab santai dengan amir. Tak banyak yang dilakukan amir selain menjawab pertanyaan dan meminum kopi yang telah sengaja diberikan oleh abdullah.
Abdullah menganalisis sendiri hasil Tanya jawab dengan amir dan beberapa masyarakat desa dan mencoba untuk mencari solusi dari masalah yang telah mengakar selama beberapa tahun semenjak adanya kebijakan transmigrasi. Ternyata hasil analisis masalah menunjukan bahwa akar dari budaya yang salah ini bukan karena perbedaan suku atau karena merasa tersaingi dengan pendatang tetapi penyebabnya adalah keengganan masyarakat muslim untuk toleransi kepada umat agama lain dikarenakan kurangnya ilmu agama yang dimiliki dan adanya ajaran turun temurun yang salah.
Abdullah berharap amir adalah orang terakhir yang ditangkapnya dan tidak ada lagi tawuran walaupun sekedar tawuran ringan. Sudah hampir seminggu ini Abdullah menganalisis untuk mencari solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah ini. Akhirnya dengan perjuangan dan semangat perubahan abdullah menawarkan solusi kepada petinggi desa dan petingggi kepolisian. Dengan semangat perubahan membuat solusi yang abdullah tawarkan disepakati bahkan difasilitasi.
Pelangi menjadi indah ketika warnanya berbeda dan menjadi satu
Memanggil ustad – ustad untuk mengajarkan islam secara benar sekaligus memperbaiki akhlak masyarakat desa. Selama ini penduduk desa gisting menjadi muslim yang tidak berilmu mereka hanya meneruskan ajaran dari pendahulunya tanpa mendalami islam. Mereka berpikir umat non muslim adalah musuh, sehingga mereka merasa tertutup dan terancam bila mereka diberi tindakan membahayakan walau sekedar menginjak kaki. Menurut abdullah memanggil ustad adalah solusi terbaik untuk mengembalikan akhlak warga desa.
Setelah 4 bulan semenjak pemberian solusi, warga muslim mulai sadar bahwa kefanatikan mereka tidak berdasar dan mereka sadar bahwa yang dilakukan selama ini adalah salah. Mengikuti ajaran terdahulu yang salah dan enggannya mencari ilmu agama merupakan penyebab penyimpangan ini. Aparat kepolisian, aparat desa dan seluruh masyarakat desa khususnya yang muslim terus berupaya untuk mengembalikan citra islam dimata agama lain.
Dengan kerja keras seluruh pihak, kehidupan masyarakat desa gisting menjadi tentram dan damai. Bertegur sapa, becanda dan keterbukaan semua lapisan masyarakat menjadikan indah semua. Toleransi ekstrem dan intrem benar – benar terlihat. Ini bukan terjadi karena Abdullah polisi pendatang baru tetapi karena rahmat dari allah swt.
 “ kemajemukan artinya bukan perbedaan, kemajemukan artinya melengkapi”
 sumber gambar: google image

No comments :

Post a Comment