Cerita fiktif yang gue buat untuk lomba berhadiah buku. Walaupun sampulnya aja gue gak dapet tapi gak papa gue coba bagi, kali – kali bisa jadi bahan contekan anak TK yang dikasih tugas untuk buat cerita tentang konflik agama. Cekidot….
Gisting adalah salah satu desa di provinsi lampung, Indonesia mini bisa menjadi julukan desa ini. Islam, Kristen, Khatolik, Sunda, Jawa, Lampung dan lain – lain. Semua dipaksa berkumpul menjadi satu karena adanya program transmigrasi tahun 2002 lalu. Sudah hampir 8 tahun tetapi desa ini tidak ada tanda – tanda kerukunan antar masyarakat. Penduduk asli desa ini semua beragama islam, mereka enggan untuk menerima perbedaan yang memang bukan kehendak mereka. Penduduk asli dikenal dengan kefanatikan agamanya. Kefanatikan agama ini tidak diiringi dengan ilmu agama yang cukup. Hingga suatu ketika Abdullah seorang polisi muslim dengan bekal ilmu yang cukup mendapatkan tugas untuk menjadi polisi di desa ini.
Baru
sebulan Abdullah tinggal sudah 2 kali menemukan kasus bentrokan ringan antar
warga. Dari informasi polisi terdahulu kejadian ini sudah menjadi bagian dari
desa, tanpa berujung dan selalu tidak terselesaikan. Kasus bentrokan yang
paling terbaru disebabkan karena hal tidak masuk akal membuat beberapa orang
tertawa mendengarnya. Betapa tidak bentrokan hanya disebabkan karena kaki rizal
pemuda asli lampung terinjak tanpa sengaja oleh pemuda Kristen.
Saling
lempar batu, olok – olok dan kegiatan tawuran lainnya dipertunjukan antar dua kubu
islam dan Kristen. Abdullah yang siang ini sedang beroperasi terkenan batu di
lengan kanannya, sontak ia berlari menuju tempat kejadian. Jumlahnya tidak
terlalu banyak hanya 11 orang dan umur nya 18 tahunan. Di ambilnya pistol di
pinggang sebelah kanannya lalu diarahkan di udara sambil menarik pelatuk dengan
jari telunjuknya. Apa yang dilakukan oleh Abdullah membuat beberapa orang menjerit.
Kegiatan bentrokan seketika berhenti dan berubah menjadi kegiatan melarikan
diri.
Dengan
tangan yang terampil berkat latihan akedemi polisi, Abdullah kembali memasukan pistolnya
di pinggang sebelah kanan. Hal ini juga menjadi pertanda bahwa ia harus segera
memulai untuk berlari mengejar para pelaku tawuran. Langkah kaki yang dipercepat
ditambah sedikit lompatan seorang pemuda muslim dengan nama Amir tertangkap. Setelah
mendapatkan satu tangkapan polisi muda ini langsung bergegas menuju kantor
polisi.
Dikantor
polisi Abdullah ditanya oleh personil lain tentang alasan menangkap amir. Setelah
polisi lain tahu bahwa alasannya adalah karena bentrokan. Mereka pun bergumam
dengan maksud menyindir abdullah bahwa yang dilakukan itu tidak ada gunanya
karena masalah ini sudah menjadi tradisi di desa ini. Tapi abdullah tetap bersikeras
untuk memutus mata rantai yang telah berkarat selama ini. Bekerja sendiri,
abdullah memulai aksi Tanya jawab santai dengan amir. Tak banyak yang dilakukan
amir selain menjawab pertanyaan dan meminum kopi yang telah sengaja diberikan
oleh abdullah.
Abdullah
menganalisis sendiri hasil Tanya jawab dengan amir dan beberapa masyarakat desa
dan mencoba untuk mencari solusi dari masalah yang telah mengakar selama beberapa
tahun semenjak adanya kebijakan transmigrasi. Ternyata hasil analisis masalah
menunjukan bahwa akar dari budaya yang salah ini bukan karena perbedaan suku
atau karena merasa tersaingi dengan pendatang tetapi penyebabnya adalah
keengganan masyarakat muslim untuk toleransi kepada umat agama lain dikarenakan
kurangnya ilmu agama yang dimiliki dan adanya ajaran turun temurun yang salah.
Abdullah
berharap amir adalah orang terakhir yang ditangkapnya dan tidak ada lagi
tawuran walaupun sekedar tawuran ringan. Sudah hampir seminggu ini Abdullah
menganalisis untuk mencari solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah ini. Akhirnya
dengan perjuangan dan semangat perubahan abdullah menawarkan solusi kepada
petinggi desa dan petingggi kepolisian. Dengan semangat perubahan membuat
solusi yang abdullah tawarkan disepakati bahkan difasilitasi.
![]() |
| Pelangi menjadi indah ketika warnanya berbeda dan menjadi satu |
Memanggil
ustad – ustad untuk mengajarkan islam secara benar sekaligus memperbaiki akhlak
masyarakat desa. Selama ini penduduk desa gisting menjadi muslim yang tidak
berilmu mereka hanya meneruskan ajaran dari pendahulunya tanpa mendalami islam.
Mereka berpikir umat non muslim adalah musuh, sehingga mereka merasa tertutup
dan terancam bila mereka diberi tindakan membahayakan walau sekedar menginjak
kaki. Menurut abdullah memanggil ustad adalah solusi terbaik untuk
mengembalikan akhlak warga desa.
Setelah
4 bulan semenjak pemberian solusi, warga muslim mulai sadar bahwa kefanatikan
mereka tidak berdasar dan mereka sadar bahwa yang dilakukan selama ini adalah
salah. Mengikuti ajaran terdahulu yang salah dan enggannya mencari ilmu agama
merupakan penyebab penyimpangan ini. Aparat kepolisian, aparat desa dan seluruh
masyarakat desa khususnya yang muslim terus berupaya untuk mengembalikan citra
islam dimata agama lain.
Dengan
kerja keras seluruh pihak, kehidupan masyarakat desa gisting menjadi tentram
dan damai. Bertegur sapa, becanda dan keterbukaan semua lapisan masyarakat
menjadikan indah semua. Toleransi ekstrem dan intrem benar – benar terlihat.
Ini bukan terjadi karena Abdullah polisi pendatang baru tetapi karena rahmat
dari allah swt.
“ kemajemukan artinya bukan perbedaan,
kemajemukan artinya melengkapi”
sumber gambar: google image

No comments :
Post a Comment